Korea Selatan Kaji Larangan Ponsel di Sekolah, Upaya Tingkatkan Fokus Belajar Tuai Perdebatan
- Mohammad -
- 22 Jul, 2026
SEOUL I MaduraNetwork.id – Pemerintah pendidikan di Provinsi Gyeonggi, Korea Selatan, tengah mempertimbangkan penerapan larangan penggunaan telepon seluler sepanjang hari sekolah sebagai bagian dari upaya meningkatkan konsentrasi belajar sekaligus menciptakan lingkungan pendidikan yang lebih kondusif. Wacana tersebut memicu perdebatan mengenai batas antara kedisiplinan di sekolah dan hak siswa dalam mengakses perangkat komunikasi.
Usulan itu menjadi salah satu agenda prioritas Ahn
Min-seok, yang mulai menjabat sebagai Superintendent atau Kepala Dinas
Pendidikan Provinsi Gyeonggi pada Juli 2026. Kebijakan direncanakan diterapkan
secara bertahap dengan menyasar sekolah menengah pertama sebagai tahap awal.
Dilansir The Korea Herald, Ahn menilai
pembatasan penggunaan ponsel dapat mengurangi ketergantungan siswa terhadap
perangkat digital sekaligus memberi ruang lebih besar bagi mereka untuk
meningkatkan kreativitas, interaksi sosial, dan fokus selama proses
pembelajaran.
Provinsi Gyeonggi merupakan wilayah dengan sistem
pendidikan terbesar di Korea Selatan. Berdasarkan data pemerintah setempat,
wilayah ini menaungi sekitar 1,44 juta siswa atau hampir 28 persen dari total
populasi pelajar nasional. Besarnya jumlah peserta didik membuat setiap
kebijakan pendidikan yang diterapkan di Gyeonggi berpotensi menjadi acuan bagi
daerah lain.
Selama ini, sebagian besar sekolah di Korea Selatan
sebenarnya telah menerapkan pembatasan penggunaan ponsel di dalam kelas. Namun,
tidak adanya aturan yang seragam menyebabkan setiap sekolah memiliki kebijakan
berbeda. Sebagian memperbolehkan siswa membawa telepon seluler dengan
pembatasan tertentu, sementara sekolah lain menerapkan aturan yang lebih ketat.
Perbedaan regulasi tersebut, menurut kalangan
pendidik, kerap memunculkan persoalan di lapangan. Guru mengaku kesulitan
mengawasi penggunaan perangkat digital karena sering menghadapi protes dari
siswa maupun orang tua yang mempertanyakan dasar kebijakan masing-masing
sekolah.
Di sisi lain, rencana pelarangan total mendapat
perhatian dari kelompok pemerhati hak asasi manusia. Mereka mengingatkan bahwa
pembatasan menyeluruh dapat mengurangi hak siswa untuk berkomunikasi, terutama
ketika menghadapi situasi darurat atau kondisi yang membahayakan keselamatan.
Para pengkritik juga menilai kebijakan itu harus
dirancang secara proporsional agar mampu menjaga keseimbangan antara kebutuhan
menciptakan disiplin belajar dengan perlindungan terhadap hak-hak dasar peserta
didik.
Menyadari adanya pro dan kontra, Pemerintah
Pendidikan Provinsi Gyeonggi memilih pendekatan bertahap. Sebelum kebijakan
diberlakukan secara resmi, otoritas pendidikan akan menggelar konsultasi dengan
siswa, orang tua, guru, serta berbagai pemangku kepentingan lainnya guna
memperoleh masukan.
Perdebatan mengenai penggunaan ponsel di sekolah
menjadi cerminan tantangan yang dihadapi sistem pendidikan modern. Di satu
sisi, teknologi digital menawarkan kemudahan akses informasi dan komunikasi.
Namun di sisi lain, penggunaan yang tidak terkendali dinilai berpotensi
mengganggu konsentrasi belajar, sehingga mendorong pemerintah mencari formulasi
kebijakan yang mampu menyeimbangkan kemajuan teknologi dengan kualitas
pendidikan.
Leave a Reply
Your email address will not be published. Required fields are marked *


